Minggu, 14 Agustus 2011

Hasrat Seks di Bulan Ramadhan

    Terkadang hadirnya Ramadhan dibarengi kecemasan terkait pemenuhan kebutuhan seks. Padahal islam sudah menyiapkan solusi dalam menyalurkan hasrat manusiawi itu.
    Meskipun makan dan minum dikurangi, bahkan ditiadakan selama bulan ramadhan, ternyata hal demikian bagi sebagian orang tidak menyurutkan gairahnya dalam urusan ranjang. Puasa sama sekali tidak bisa memadamkan gairah dalam berhubungan badan. Dan bersyukurlah, betapa manusiawinya perlakuan Allah terhadap kita, ditengah semangat ramadhan, Tuhan masih memberi kesempatan untuk menyalurkan hasratnya.
    Dalam bukunya "Membumikan Al-Qur'an", Quraish Shihab menjelaskan maksud dari surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur (berhubungan seks) dengan istri-istri kamu" bahwa ayat ini membolehkan hubungan bersebadan dimalam hari bulan ramadhan, dan ini juga termasuk melarang berhubungan badan di siang hari ramadhan. Termasuk dalam pengertiam hubungan seks adalah mengeluarkan sperma. Karena itu, walaupun ayat ini tidak melarang ciuman atau pelukan antar suami istri, para ulama mengingatkan bahwa hal itu adalah makruh, khususnya bagi yang tidak mampu menahan diri, karena dapat menyebabkan keluarnya sperma. Bagi yang mencium atau apapun selain berhubungan seks, kemudian ternyata "basah" maka puasanya batal, ia harus menggantinya pada hari yang lain.
    Selaras dengan itu, pada kitab shahih Bukhari disebutkan bahwa Aisyah mengatakan, nabi Muhammad pernah menciuminya dan tidur seranjang dengannya, padahal beliau sedang puasa. Dan beliau adalah orang yang paling sanggup menguasai nafsu birahinya.
    Sejatinya tidak dilarang mencumbu istri di siang hari pada bulan ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, namun bila terlalu bersemangat mencium atau mencumbu istri akan berpotensi berlanjut pada hal-hal yang dilarang di siang Ramadhan. Jadi, ciuman atau cumbuan itu dalam takaran yang sekadarnya saja.
    Kembali pada urusan hubungan seks, selaras dengan semangat Ramadhan yang intinya pengendalian diri, maka dalam berhubungan badan pun harus ada manajemennya. Ia harus ditata secara profesional sesuai dengan aturan agama. Dari itu, mari maksimalkan waktu-waktu malam, karena cuma itulah waktu yang dihalalkan Allah.
    Pintar-pintarlah mencari waktu yang tepat melepaskan hasrat, sebab waktu yang tersedia sebetulnya relatif sempit. Setelah berbuka puasa saat magrib, kita hanya memiliki waktu beberapa jam saja menjelang imsak sahur, itupun akan terpotong waktu tidur. Kesempatan yang terbatas itulah yang perlu dimanfaatkan untuk bermesraan bersama pasangan.
    Kita pun perlu menjaga kearifan dan memahami kondisi pasangan dengan menghindari pemaksaan keinginan. Harap dimaklumi bila kondisi puasa membuat stamina pasangan cukup terkuras. Belum tentu pula pasangan siap langsung ke ranjang begitu buka puasa usai. Selama berpuasa, kita membutuhkan kesegaran fisik di siang hari. Jadi lamanya waktu bercinta juga dipertimbangkan supaya tidak terlalu loyo menjalankan puasanya. Terlebih apabila kita maupun pasangan sama-sama bekerja.
    Kita tidak perlu puasa seks secara penuh selama bulan Ramadhan. Ini bulan pengendalian nafsu dan bukan membinasakannya. Toh pada waktu sesudah buka puasa dan menjelang imsak tersedia kesempatan untuk menyalurkannya. Bila dilakukan dengan ikhlas dan benar, hitung-hitung aktivitas yang berkah ini menambah pundi-pundi pahala.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Rumah Bunda Copyright © 2009 Girlymagz is Designed by Bie Girl Vector by Ipietoon Redesign by Mung Bisnis